Smilenews.id – Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Depok mencatat inflasi sebesar 0,07 persen secara bulanan (month-to-month/m-to-m) pada Agustus 2026. Sementara itu, inflasi tahunan (year-on-year/yoy) mencapai 3,21 persen, lebih tinggi dibandingkan inflasi pada 2025 yang tercatat sebesar 1,85 persen.
Kepala BPS Kota Depok, Agus Marzuki, mengatakan tingkat inflasi tahunan pada Agustus 2026 tersebut lebih tinggi dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.
“Untuk yang year on year Agustus ini agak jauh lebih tinggi dibanding tahun 2024 sebesar 2,24, tahun 2025 sebesar 1,85, dan 2026 sekarang 3,21 persen,” ucapnya.
Agus menjelaskan, inflasi bulanan pada Agustus 2026 dipengaruhi oleh kenaikan harga pada sejumlah kelompok pengeluaran. Kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga mengalami inflasi sebesar 0,55 persen, diikuti kelompok pendidikan sebesar 0,55 persen, perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,52 persen, rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 0,22 persen, serta kesehatan sebesar 0,06 persen.
“Komoditas dengan andil tertinggi ada pada daging ayam ras, beras, pasta gigi, jagung manis, dan emas perhiasan sekarang yang sudah mulai agak stabil,” jelasnya Agus.
Di sisi lain, penurunan harga minyak goreng, bawang merah, bensin, sabun mandi cair, dan tomat menjadi penyumbang utama deflasi. Penurunan harga sejumlah komoditas tersebut turut menahan tekanan inflasi secara keseluruhan.
Agus menjelaskan, kenaikan harga sejumlah komoditas antara lain dipengaruhi oleh bergulirnya program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan musim kemarau.
Berdasarkan perkembangan selama empat bulan terakhir, Kota Depok mengalami penyesuaian harga pada sejumlah komoditas pangan dan energi.
Pada Mei dan Juni 2026 kenaikan harga terjadi pada bawang merah. Selanjutnya, penyesuaian harga bensin terjadi pada Juli 2026, disusul kenaikan harga daging ayam ras pada Agustus 2026.
Ia mengungkapkan, perubahan harga tersebut turut dipengaruhi oleh pergerakan harga komoditas di pasar global dan kondisi musim kemarau. Faktor-faktor tersebut mendorong kenaikan maupun perubahan harga pada sejumlah komoditas.
“Kalau kita lihat sumber tekanan itu tidak hanya kepada komoditas pangan ya. Tapi juga dari pergerakan harga energi,” katanya.
Meski demikian, Agus menilai perkembangan inflasi di Kota Depok dalam beberapa waktu terakhir masih menunjukkan kondisi yang terkendali, meskipun terjadi fluktuasi harga pada sejumlah komoditas.
“Kalau kita lihat perkembangan inflasi 4 bulan terakhir di kota Depok ya secara umum masih terkendali meskipun berfluktuasi,” tandasnya.(*)
Subscribe To Get Update Latest Blog Post
[mc4wp_form id=664]No Credit Card Required

Leave Your Comment: